Judul : Buddha
Judul asli : Buddha
Penulis : Karen Armstrong
Penerbit : Bentang (PT Bentang Pustaka)
Cetakan : Kedua, Juli 2005
Tebal : 238 hal + xxx
Sejak dahulu, manusia memanfaatkan agama untuk membantu memahami kehidupan bahwa hidup kita mempunyai arti dan nilai hakiki. Pemaknaan hidup serasa sebagai kebutuhan fundamental tatkala manusia dalam kehidupannya sehari-hari, sudah semakin banyak dicarutmarutkan dengan urusan dunia dalam pemenuhan kebutuhan fisik. Manusia memerlukan agama sebagai “jalan” untuk menggali kembali nilai kemanusiaannya, meskipun terkadang mitos-mitos dan ritual-ritual keagamaan yang merupakan unsur utamanya tampaknya tak masuk akal.
Dilema manusia post-modern yang ditandai dengan gejala individualisme, sebagai akibat perubahan pola masyarakat dari komunal menjadi ekonomi pasar yang kompetitif, justru membawa sisi ironisme tersendiri. Manusia terjebak dalam rutinitas yang tidak saja menghabiskan rentang waktu dalam hidup, tetapi malahan membuka ruang pada dirinya untuk mengingkari penderitaan yang menimpa diri kita dan sesama, serta menutup diri dalam kondisi apatisme untuk menjaga perasaan kita sendiri.
Siddharta Gautama, sang Buddha yang melegenda, adalah sosok yang kisah hidup dan pencarian spiritualnya tak henti-hentinya dimaknai dan dijadikan sumber ilham oleh banyak “pencari pencerahan” hingga melampaui sekat-sekat formal berbagai agama. Sama seperti Buddha, yang hidup di masa transisi di India Utara dalam kurun waktu 600-an hingga 500-an SM, kita saat ini juga mengalami krisis sosial, kekerasan politik, dan tragedi kemanusiaan yang mengaburkan nalar dan menciptakan apatisme.
Karen Armstrong, penulis buku Sejarah Tuhan, berusaha mengabadikan kehidupan Buddha apa adanya. Melalui buku biografi yang berjudul Buddha, Karen berusaha menguak misteri yang menyelubungi si manusia “tercerahkan” ini dengan menggali informasi berdasar kitab yang ditulis dalam bahasa Pali, bahasa berdialek India Utara saat itu. Meskipun lebih banyak dilingkupi kisah-kisah legenda, toh ini sudah merupakan nilai historis tersendiri. Bagi Buddha, adalah yang terpenting ajaran-ajarannya, bukan sisi-sisi kepribadian dan kehidupannya.
Buddha lahir sekitar tahun 563 SM, meninggalkan rumah mewahnya dan keluarganya di kerajaan Kapilawasthu di kaki pegunungan Himalaya pada tahun 534 SM (Heinz Berchant). Kegamangan memaknai kehidupan manusia setelah melihat rangkaian peristiwa yang sarat derita, yang dimulai dengan trauma karena kelahiran dan terus berlanjut hingga penuaan, sakit, kematian, kesedihan dan keserakahan di kerajaan ayahnya, membuatnya memutuskan meninggalkan semua yang telah dimilikinya.
Sang Buddha yang saat itu berumur 29 tahun, memulai perjalanan spiritualnya dengan menempuh kehidupan suci, mengembara dan pertapaan, usaha yang dianggap mulia pada saat itu. Dengan banyaknya metode dan teknik pencarian spiritual dari berbagai aliran yang berkembang saat itu, justru membuatnya tidak puas dan terus saja mencari. Berbagai aliran kepercayaan yang ada dianggap tidak sesuai bagi dirinya sehingga ia memutuskan untuk merintis jalur sendiri dan menerapkan dhamma tanpa bimbingan seorang guru. “Aku yakin, ada jalan lain untuk mencapai pencerahan!” kata Gautama (hal. 76).
Pencerahan Gautama terjadi pada tahun 528 SM saat ia duduk dalam posisi asana (meditasi) di bawah sebuah pohon Bodhi. Unsur terpenting dari kebenaran yang ia “temukan” adalah bahwa hidup yang ideal adalah hidup berdampingan dengan orang lain. Inilah “jalan tengah” yang berusaha mengakomodasi kehidupan akhirat ala brahmana dan kehidupan dunia di sisi lain agar tetap berjalan seimbang dan tidak timpang sebelah. Iapun menahbiskan 40 tahun berikutnya berkelana tak kenal lelah ke berbagai penjuru di dataran sungai Gangga, untuk mengajarkan Dhammanya. Cinta kasih dan kerelaan tanpa pamrih merupakan konsep pokok dalam pencerahan Buddha.
Filosofi keagamaan di India yang menghendaki kedamaian dan kehidupan abadi, tampaknya sejalan dengan risalah-risalah yang dibawa Buddha dan membuat ajarannya segera menyebar luas dan mudah diterima. Buddha telah menjadi simbol spiritualitas. Ia adalah sosok manusia baru yang telah terlatih untuk mendisiplinkan jiwanya agar hidup tanpa sikap egois. Ia masih hidup di dunia, tapi telah mendiami dimensi keramat lain, yang oleh para penganut monoteisme disebut sebagai eksistensi ketuhanan.
Buddha sangat menghindari kultus individu. Saat mencapai pencerahan, ia berharap ajarannya sendiri akan dilupakan. Buddha mengibaratkan ajarannya mirip rakit yang dipakai menyeberangi sungai dan kemudian dibuang. Ajaran Buddha bersifat sederhana, tujuannya bukan untuk menjabarkan konsep-konsep yang sempurna ataupun mengenai masalah-masalah metafisik. Tujuan utamanya membuat orang mampu menyeberangi samudra penderitaan menuju “pantai tujuan”. Karenanya, tidak ada teori-teori yang rumit mengenai penciptaan alam semesta ataupun eksistensi Tuhan.
Laiknya konsep Diri, konsepsi ketuhanan dapat dipakai untuk merangsang dan mendorong perilaku egoistik. Orang Islam, Yahudi, dan Kristen yang paling saleh akan menyadari bahaya perilaku egois dan akan merujuk pada Tuhan yang senada dengan sikap berdiam diri Buddha jika ditanya mengenai masalah Nibbana (Nirvana).
Mereka juga yakin bahwa Tuhan bukanlah sesuatu yang lain, bahwa persepsi kita mengenai “kehidupan” sangat terbatas sehingga lebih tepat jika dikatakan bahwa Tuhan itu tidak ada dan bahwa “Tuhan” itu bukan apa-apa. Tapi bagi pemeluk agama tertentu, benar bahwa “Tuhan” sering mengalami erosi makna. Tuhan sering kali direduksi menjadi objek sesembahan yang dibentuk dalam gambaran dan dianggap menyerupai para pemujanya. Tuhan yang terbatas ini mempunyai andil bagi kemunculan kekejian agama yang terburuk dalam sejarah.
Buddha yakin bahwa kehidupan yang tanpa pamrih akan mengantarkan manusia menuju Nibbana. Konsepsi ini bagi penganut monoteisme dianggap dapat dijadikan sebagai jalan untuk menyatu dengan Tuhan. Tapi bagi Buddha, konsep ketuhanan yang personal seperti ini terlalu dangkal, berbeda dengan konsep yang diusungnya, menempatkan Kebenaran tertinggi hanyalah makhluk. Nibbana bukanlah tempat atau sosok tertentu seperti Surga. Buddha selalu tidak mengakui adanya prinsip absolut ataupun Makhluk Tertinggi karena bisa membebani dan menghambat pencerahan.
Namun, segala sesuatu bersifat fana. Ada kelahiran ada kematian. Buddha merasakan kepadaman, yang ironisnya, merupakan realitas tertinggi dan tujuan hakiki dari umat manusia. Ia laksana nyala api yang padam oleh tiupan angin, akan beristirahat dan tak bisa digambarkan. Demikianlah yang tercerahkan telah lepas dari belenggu ego. Ia akan beristirahat dan tak bisa dilukiskan. Lampaui segala yang ada di dunia. Lampaui kekuatan kata-kata ( Sutta-Nipata, 5: 7). Ia adalah manusia yang telah mengubah dunia, membebaskan dari samsara keserakahan, kebencian dan kebodohan. Namun begitu, ia tidak lagi terpengaruh oleh keadaan dunia.Berawal dari rasa ingin tahu, coba-coba, kesenangan, hingga pada akhirnya menemukan sesuatu yang hilang...Yap.. blog ini ada untuk dilihat, dikomentari, dihujat (kalau ingin) bahkan kalau perlu dipuja laiknya pujaan hati...oh satriyanku.....
Sabtu, 28 November 2009
BEBAS DARI BELENGGU DERITA
Judul : Buddha
Judul asli : Buddha
Penulis : Karen Armstrong
Penerbit : Bentang (PT Bentang Pustaka)
Cetakan : Kedua, Juli 2005
Tebal : 238 hal + xxx
Sejak dahulu, manusia memanfaatkan agama untuk membantu memahami kehidupan bahwa hidup kita mempunyai arti dan nilai hakiki. Pemaknaan hidup serasa sebagai kebutuhan fundamental tatkala manusia dalam kehidupannya sehari-hari, sudah semakin banyak dicarutmarutkan dengan urusan dunia dalam pemenuhan kebutuhan fisik. Manusia memerlukan agama sebagai “jalan” untuk menggali kembali nilai kemanusiaannya, meskipun terkadang mitos-mitos dan ritual-ritual keagamaan yang merupakan unsur utamanya tampaknya tak masuk akal.
Dilema manusia post-modern yang ditandai dengan gejala individualisme, sebagai akibat perubahan pola masyarakat dari komunal menjadi ekonomi pasar yang kompetitif, justru membawa sisi ironisme tersendiri. Manusia terjebak dalam rutinitas yang tidak saja menghabiskan rentang waktu dalam hidup, tetapi malahan membuka ruang pada dirinya untuk mengingkari penderitaan yang menimpa diri kita dan sesama, serta menutup diri dalam kondisi apatisme untuk menjaga perasaan kita sendiri.
Siddharta Gautama, sang Buddha yang melegenda, adalah sosok yang kisah hidup dan pencarian spiritualnya tak henti-hentinya dimaknai dan dijadikan sumber ilham oleh banyak “pencari pencerahan” hingga melampaui sekat-sekat formal berbagai agama. Sama seperti Buddha, yang hidup di masa transisi di India Utara dalam kurun waktu 600-an hingga 500-an SM, kita saat ini juga mengalami krisis sosial, kekerasan politik, dan tragedi kemanusiaan yang mengaburkan nalar dan menciptakan apatisme.
Karen Armstrong, penulis buku Sejarah Tuhan, berusaha mengabadikan kehidupan Buddha apa adanya. Melalui buku biografi yang berjudul Buddha, Karen berusaha menguak misteri yang menyelubungi si manusia “tercerahkan” ini dengan menggali informasi berdasar kitab yang ditulis dalam bahasa Pali, bahasa berdialek India Utara saat itu. Meskipun lebih banyak dilingkupi kisah-kisah legenda, toh ini sudah merupakan nilai historis tersendiri. Bagi Buddha, adalah yang terpenting ajaran-ajarannya, bukan sisi-sisi kepribadian dan kehidupannya.
Buddha lahir sekitar tahun 563 SM, meninggalkan rumah mewahnya dan keluarganya di kerajaan Kapilawasthu di kaki pegunungan Himalaya pada tahun 534 SM (Heinz Berchant). Kegamangan memaknai kehidupan manusia setelah melihat rangkaian peristiwa yang sarat derita, yang dimulai dengan trauma karena kelahiran dan terus berlanjut hingga penuaan, sakit, kematian, kesedihan dan keserakahan di kerajaan ayahnya, membuatnya memutuskan meninggalkan semua yang telah dimilikinya.
Sang Buddha yang saat itu berumur 29 tahun, memulai perjalanan spiritualnya dengan menempuh kehidupan suci, mengembara dan pertapaan, usaha yang dianggap mulia pada saat itu. Dengan banyaknya metode dan teknik pencarian spiritual dari berbagai aliran yang berkembang saat itu, justru membuatnya tidak puas dan terus saja mencari. Berbagai aliran kepercayaan yang ada dianggap tidak sesuai bagi dirinya sehingga ia memutuskan untuk merintis jalur sendiri dan menerapkan dhamma tanpa bimbingan seorang guru. “Aku yakin, ada jalan lain untuk mencapai pencerahan!” kata Gautama (hal. 76).
Pencerahan Gautama terjadi pada tahun 528 SM saat ia duduk dalam posisi asana (meditasi) di bawah sebuah pohon Bodhi. Unsur terpenting dari kebenaran yang ia “temukan” adalah bahwa hidup yang ideal adalah hidup berdampingan dengan orang lain. Inilah “jalan tengah” yang berusaha mengakomodasi kehidupan akhirat ala brahmana dan kehidupan dunia di sisi lain agar tetap berjalan seimbang dan tidak timpang sebelah. Iapun menahbiskan 40 tahun berikutnya berkelana tak kenal lelah ke berbagai penjuru di dataran sungai Gangga, untuk mengajarkan Dhammanya. Cinta kasih dan kerelaan tanpa pamrih merupakan konsep pokok dalam pencerahan Buddha.
Filosofi keagamaan di India yang menghendaki kedamaian dan kehidupan abadi, tampaknya sejalan dengan risalah-risalah yang dibawa Buddha dan membuat ajarannya segera menyebar luas dan mudah diterima. Buddha telah menjadi simbol spiritualitas. Ia adalah sosok manusia baru yang telah terlatih untuk mendisiplinkan jiwanya agar hidup tanpa sikap egois. Ia masih hidup di dunia, tapi telah mendiami dimensi keramat lain, yang oleh para penganut monoteisme disebut sebagai eksistensi ketuhanan.
Buddha sangat menghindari kultus individu. Saat mencapai pencerahan, ia berharap ajarannya sendiri akan dilupakan. Buddha mengibaratkan ajarannya mirip rakit yang dipakai menyeberangi sungai dan kemudian dibuang. Ajaran Buddha bersifat sederhana, tujuannya bukan untuk menjabarkan konsep-konsep yang sempurna ataupun mengenai masalah-masalah metafisik. Tujuan utamanya membuat orang mampu menyeberangi samudra penderitaan menuju “pantai tujuan”. Karenanya, tidak ada teori-teori yang rumit mengenai penciptaan alam semesta ataupun eksistensi Tuhan.
Laiknya konsep Diri, konsepsi ketuhanan dapat dipakai untuk merangsang dan mendorong perilaku egoistik. Orang Islam, Yahudi, dan Kristen yang paling saleh akan menyadari bahaya perilaku egois dan akan merujuk pada Tuhan yang senada dengan sikap berdiam diri Buddha jika ditanya mengenai masalah Nibbana (Nirvana).
Mereka juga yakin bahwa Tuhan bukanlah sesuatu yang lain, bahwa persepsi kita mengenai “kehidupan” sangat terbatas sehingga lebih tepat jika dikatakan bahwa Tuhan itu tidak ada dan bahwa “Tuhan” itu bukan apa-apa. Tapi bagi pemeluk agama tertentu, benar bahwa “Tuhan” sering mengalami erosi makna. Tuhan sering kali direduksi menjadi objek sesembahan yang dibentuk dalam gambaran dan dianggap menyerupai para pemujanya. Tuhan yang terbatas ini mempunyai andil bagi kemunculan kekejian agama yang terburuk dalam sejarah.
Buddha yakin bahwa kehidupan yang tanpa pamrih akan mengantarkan manusia menuju Nibbana. Konsepsi ini bagi penganut monoteisme dianggap dapat dijadikan sebagai jalan untuk menyatu dengan Tuhan. Tapi bagi Buddha, konsep ketuhanan yang personal seperti ini terlalu dangkal, berbeda dengan konsep yang diusungnya, menempatkan Kebenaran tertinggi hanyalah makhluk. Nibbana bukanlah tempat atau sosok tertentu seperti Surga. Buddha selalu tidak mengakui adanya prinsip absolut ataupun Makhluk Tertinggi karena bisa membebani dan menghambat pencerahan.
Namun, segala sesuatu bersifat fana. Ada kelahiran ada kematian. Buddha merasakan kepadaman, yang ironisnya, merupakan realitas tertinggi dan tujuan hakiki dari umat manusia. Ia laksana nyala api yang padam oleh tiupan angin, akan beristirahat dan tak bisa digambarkan. Demikianlah yang tercerahkan telah lepas dari belenggu ego. Ia akan beristirahat dan tak bisa dilukiskan. Lampaui segala yang ada di dunia. Lampaui kekuatan kata-kata ( Sutta-Nipata, 5: 7). Ia adalah manusia yang telah mengubah dunia, membebaskan dari samsara keserakahan, kebencian dan kebodohan. Namun begitu, ia tidak lagi terpengaruh oleh keadaan dunia.Ironisme Seorang Pegiat Kemanusiaan
Judul : Sang Hakim
Judul asli : The Judges: A Novel
Penulis : Elie Wiesel
Penerbit : Bentang (PT Bentang Pustaka)
Cetakan : I, Februari 2005
Tebal : 368 hal +xvi
Manusia terkadang tidak bisa memahami rahasia Tuhan, ada apa dibalik kehidupan yang dianugerahkan pada kita. Tapi tidak bagi seorang Elie Wiesel, pengarang besar berdarah Yahudi. Ia bisa mengambil hikmah dari takdirnya, menjadi salah satu manusia yang berhasil hidup dan bertahan selamat di antara empat puluh juta jiwa yang tewas, saat pendudukan rezim Nazi di Rumania pada tahun 1943. Tidak terbayangkan sama sekali hingga detik hari ini, menjadi saksi mata kekejaman Nazi atas bangsanya, bahkan keluarganya sendiri, enam puluhan tahun silam.
Sebagai saksi hidup dari sebuah tragedi besar kemanusiaan, Elie Wiesel, menyadari keberuntungannya sebagai suatu anugerah yang tidak sia-sia. Tidak sia-sia, karena tidak seperti korban selamat yang lain yang lebih memilih diam dan mengubur dalam-dalam kenangan buruk tersebut, ia malah dengan berani membongkar dan menunjukkan pada dunia lewat buku-bukunya. Dari tulisannya, lahir sejumlah karya yang terinspirasi latar suram nan pedih nasib Yahudi di tangan Nazi-Jerman.
Tak hanya sampai di situ, ia adalah corong terdepan yang begitu gigih dalam mengkampanyekan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan, melalui sejumlah konferensi internasional tentang peringatan Holocaust dan kekejaman Nazi. Kiprah dan semangatnya yang tak henti dalam mengingatkan dunia akan persamaan hak asasi manusia dan kemanusiaan, mengantarnya memperoleh The Congressional Medal of Honor dari pemerintah Amerika Serikat dan Nobel Perdamaian pada tahun 1986.
Kepiawaian menuangkan kegelisahan hatinya dalam tulisan-tulisan susastranya, dibuktikan Wiesel dengan telah menghasilkan lebih dari empat puluh buku, termasuk buku best-sellernya, Night dan A Beggar in Jerusalem yang memenangi Prix Medicis. Pun hal ini diimbangi dengan kritik-kritiknya terhadap apa yang disebutnya sebagai “sikap diam dunia” tatkala tragedi kemanusiaan terjadi di berbagai belahan bumi. Sebut saja pelanggaran hak asasi Cina terhadap Tibet, pembersihan etnis di Bosnia, bahkan nasib tak jelas para manusia perahu asal Vietnam.
Tidak semua karyanya menceritakan sangkut paut hubungan antara Nazi dan Yahudi, seperti yang dilukiskan dalam triloginya: La Nuit, bagian pertama yang diilhami malam panjang di kamp Buchenwald, disusul sekuelnya Dawn dan Accident. Novel berjudul -Sang Hakim- ini, dalam beberapa esai kritik, termasuk dalam thriller berlatar modern. Tema utama yang diangkat adalah the question of spirituality and humanity. Mencoba menggali makna-makna etika spiritual dan kemanusiaan, sebuah tema yang tak pernah lepas dari kehidupan Wiesel sendiri, dan diperolehnya dari perjuangan bertahan hidup dalam kamp konsentrasi.
Novel ini yang merupakan terjemahan dari The Judges: A Novel (New York, 2002), mengisahkan perjuangan lima orang diantara para penumpang pesawat yang terpaksa mendarat karena cuaca buruk. Mereka berlima dengan karakter dan latar belakang kehidupan yang berbeda, ditampung di sebuah rumah penduduk yang sama. Rumah yang tidak seorang pun bisa keluar bila sudah berada didalamnya, lebih mirip ruang observasi dimana sang tuan rumah bisa dengan bebas mengamati gerak gerik para tamunya tanpa diketahui. Orang pertama, satu-satunya wanita, Claudia, yang baru saja meninggalkan suaminya dan menemukan cinta barunya.
Razziel, orang kedua, seorang guru agama yang pernah menjadi tahanan politik, dan kini mencari kebenaran untuk menemukan sang “juru selamat”. Orang ketiga, Yoav, seorang tentara Yahudi Israel yang divonis menderita tumor ganas diotaknya, mencoba bertahan untuk sekedar memanfaatkan sisa umur dengan menemui sang istri dan menjalani kehidupan normal. George, seorang ahli kearsipan yang ditangannya ada sebuah dokumen rahasia yang bisa menjatuhkan seorang politisi berpengaruh, dan Bruce, orang kelima, si perayu ulung yang sadar akan dosa-dosanya membuat banyak hati wanita kecewa dan patah, dan kini ingin menemui cinta sejatinya.
Namun kenyataan berbicara lain, alih-alih mendapat kenyaman berlindung dari hujan badai salju yang terus menggila, mereka harus menghadapi kematian yang justru datang dari sang penolong. Tuan rumah mereka, seorang lelaki misterius yang menyebut dirinya “Sang Hakim”, mulai menginterogasi dan menanyai mereka satu per satu laiknya dalam sebuah persidangan. Memaksa mereka menghadapi kebenaran dan mempertanyakan makna hidup selama ini. Namun tak berapa lama, sang hakim mengumumkan bahwa salah seorang diantara mereka yang berada di rumahnya, orang yang paling tak berharga, akan mati sebelum fajar menyingsing.
Belum hilang rasa penasaran pada sosok si hakim yang menyimpan misteri dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis, dan cenderung menggugat eksistensi terdalam, mereka berlima kini dikejutkan dengan sandiwara maut yang sedang dipertunjukkan sang hakim. Dibantu oleh asistennya, si Bongkok, yang tak kalah membingungkan dengan si majikan, berperawakan dan berwajah seaneh bahkan lebih buruk dari sebutannya, membuat psikodrama yang ada, benar-benar nyata tersaji. Melihat kenyataan tak ada jalan keluar, mereka berlima pun mau tak mau harus mengikuti skenario sang hakim.
Kelima “terdakwa” tersebut harus melewati malam penantian dengan diliputi ketidakpastian, siapakah yang pantas diantara mereka menjadi korban yang akan mati di pengadilan ala sang hakim. Gambaran masa lalu masing-masing terpampang kembali dengan begitu jelas, tidak sekedar mengulang ingatan, tetapi berusaha menggali makna hidup yang sudah dijalani dengan tetap mempertanyakan seberapa pantas dan untuk apa mereka hidup hingga pertanyaan kematian itu sendiri. Disinilah yang menjadi ciri khas Elie Wiesel dalam setiap karyanya, selalu menyelipkan pertanyaan-pertanyaan berbau filosofis sekaligus religius.
Tema-tema seputar kehidupan yang diungkap Wiesel dalam novel ini, seperti pencarian kebenaran filosofis ala Razziel akan sosok spiritualitasnya: Paritus, pengkhianatan akan kejujuran yang dilakukan Bruce terhadap wanita-wanita korban rayuannya. Begitu berharganya kesetiaan anak manusia yang dijalin Yoav dengan istrinya, Carmela, meski kematian diambang pintu, perselingkuhan George dengan Pamela yang jauh dari kesan memberontak. Dan penemuan jawaban hati akan cinta sebenarnya Claudia terhadap David.
Kelima penumpang ini, meski berbeda masa lalu, disatukan oleh keadaan yang sama dan satu tujuan; kebebasan untuk meneruskan kehidupan. Suatu hal yang menjadi garis hidup dan perjuangan Elie Wiesel dalam menyuarakan betapa pentingnya arti kemanusiaan. Ironinya, pada titik inilah kemanusian Wiesel dipertanyakan. Ia membungkam ketika pelanggaran kemanusiaan Israel terhadap Palestina mulai dipertanyakan dunia.
Ada apa dengan Elie Wiesel? Tidak diragukan lagi, setidak-tidaknya, tema dan setting ranah Yahudi dalam Novel –Sang Hakim- ini, sudah cukup menyiratkan secara implisit garis keberpihakkannya pada bangsa Yahudi. Sungguh ironis, orang yang dipahlawankan dunia karena dengan berani menjadikan kemanusiaan sebagai sahabat, ternyata memilih bersikap diam ketika tragedi yang mengancam kemanusiaan jelas-jelas terjadi di depan mata, justru pada saat ia berada dalam posisi orang bebas, bukan sebagai tahanan pihak manapun.Rabu, 18 November 2009
Menjaga Sains Tetap Manusiawi
Kemajuan teknologi yang begitu pesat selama dua abad terakhir membawa konsekuensi yang tidak sedikit bagi kehidupan manusia. Berbagai keberhasilan yang menakjubkan dalam banyak bidang kehidupan, di satu sisi, sedikit banyak tidak lepas dari perkembangan mutakhir sains modern. Sains modern, melalui teknologi yang dihasilkannya, telah memberi manfaat yang begitu besar pada manusia. Kehidupan manusia menjadi lebih mudah dan nyaman.
Di sisi lain, berbagai tragedi kemanusiaan juga tidak bisa dihindari. Manusia semakin tidak bersahabat dengan alam dan sesamanya. Penemuan atom yang berakhir dengan bom nuklir yang menghancurkan Nagasaki dan Hirosima, perang Dunia I dan II, krisis ekologi berupa pencemaran dan kerusakan yang mengancam kelestarian bumi, bahkan perang antar sesama yang masih saja terjadi hingga kini di Timur Tengah, adalah bukti semakin tidak bijaknya manusia dalam memanfaatkan kemajuan teknologi sains.
Tidak bisa dipungkiri, dalam rangka menjaga eksistensinya di muka bumi ini, manusia modern amat berambisi menguasai alam dan lingkungannya. Melalui sains, mereka berusaha mempelajari alam dan seluk beluknya, tetapi karena sains modern menganut asas bebas nilai, maka usaha ini berujung pada eksploitasi alam secara habis-habisan. Sains yang idealnya dapat membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik, pada akhirnya menjadi salah satu ancaman kehidupan manusia karena pemanfaatannya yang buta nilai.
Sebenarnya, sejak manusia mulai memikirkan tentang konsepsi alam semesta pada jaman Yunani Kuno, tujuan dari kajian tentang alam tidak banyak berkaitan dengan upaya eksploitasi. Manusia pada masa itu tidak hanya berkutat pada keberadaan alam itu sendiri, namun sudah melangkah jauh menembus dimensi materi menuju dunia transenden. Manusia telah memikirkan hakekat dan eksistensi Tuhan dalam alam raya ini baik dalam bentuk eksplorasi ilmiah ataupun hanya sekadar wacana keilmuan.
Upaya sains berdimensi teologis dalam mempelajari alam pada masa Yunani kuno itu semakin dikukuhkan dengan lahirnya agama-agama monoteistik. Karena pengaruh agama monoteistik ini, kajian tentang alam dipandang sebagai upaya untuk memahami kreasi Tuhan. Bahkan, masalah penciptaan alam semesta selalu dikaitkan dengan masalah eksistensi Tuhan. Pandangan sains semacam ini banyak berkembang selama Abad Pertengahan. Sains Abad Pertengahan banyak dipengaruhi premis dan argumen-argumen filosofis tentang keberadaan Tuhan. Kerangka metafisik yang menaungi sains pada masa tersebut dapat memberikan penafsiran yang bersifat teistik tentang alam semesta.
Para perintis sains modern, seperti Newton, Boyle dan Einstein juga memiliki pandangan yang hampir sama, dengan meletakkan kerangka metafisik dalam kajian-kajian mereka. Tetapi, dengan munculnya penafsiran mekanistik tentang alam semesta dan dominasi filsafat empirisme, sains lalu memisahkan diri dari perspektif metafisika dan memainkan peran sebagai ideologi yang dominan. Sains modern tidak merasa perlu menghipotesiskan Tuhan dan berusaha menjelaskan fenomena alam tanpa bersandar pada sebab-sebab supranatural. Bahkan, banyak saintis beriman yang mengabaikan realitas-realitas supraindriawi dalam kajian mereka tentang alam. Asumsinya adalah sains normal (normal science) cukup untuk menjelaskan semua fenomena alam, tidak perlu ada embel-embel religius dalam kajian mereka.
Atas dasar kenyataan ini, setidak-tidaknya ada dua pandangan mengenai independensi sains. Pertama, sains itu netral. Sains dengan nilainya sendiri sudah cukup untuk menjelaskan fenomena alam yang ada. Kedua, sains itu tidak netral. Pada tataran asumsi-asumsi, sains pada dasarnya menganut nilai-nilai.
Sejalan dengan pendapat kedua bahwa sains sarat dengan nilai, Mehdi Golshani, lewat karyanya yang berjudul Melacak Jejak Tuhan dalam Sains: Tafsir Islami atas Sains, berusaha menyajikan pandangannya tentang hubungan sains dan agama. Golshani adalah seorang fisikawan yang menjadi guru besar Fisika di Universitas Teknologi Syarif, Iran. Riset utamanya berpusat pada persoalan-persoalan dasar dalam kosmologi dan mekanika kuantum. Dalam bukunya ini, Golshani memaparkan penilaiannya tentang sains modern yang sudah terjebak pada kerangka paradigma sekuler yang lebih berorientasi pada penafsiran bersifat mekanis-empiristik. Sains diyakini dari nilai-nilai diluar sains termasuk nilai-nilai etika yang bersumber dari agama. Akibatnya, sains dan hasil-hasil yang telah dicapainya, terutama penemuan-penemuan teknologi, dapat dengan mudah disalahgunakan bukan untuk kepentingan kemanusiaan.
Dalam buku ini yang berjudul asli Issues in Islam and Science, Golshani mencoba menawarkan sains islami sebagai sains yang berlandaskan nilai-nilai universal Islam. Maksudnya bukanlah untuk menggabungkan sains dan Islam secara sembarangan, misalnya hukum gravitasi Newton ala Islam atau bahkan teori relativitas Einstein versi Islam. Tujuannya lebih luas lagi, yakni agar sains modern memiliki kerangka metafisis yang teistik agar mampu berperan dalam meningkatkan peradaban manusia ke arah yang lebih baik.
Meskipun pandangannya tentang sains secara filosofis lebih banyak didasarkan pada Al quran dan hadist, Golshani tidak mengabaikan pandangan-pandangan para ilmuwan terkemuka dalam dunia sains modern Barat. Bahkan landasan pemikirannya juga diperkuat nilai-nilai universal agama monoteistik seperti termuat dalam agama Kristen. Dengan memandang “sains islami” berada satu jalur dengan ”sains Kristiani”, tampaknya Golshani juga ingin mengajak ilmuwan Kristen untuk melakukan aktivitas serupa dalam kerangka teologis Kristen. Begitu juga para ilmuwan penganut agama monoteistik lainnya.
Dengan meletakkan sains dalam kerangka metafisis yang teistik, maka sains tidak akan mereduksi alam hanya pada ranah materi saja tetapi juga mengakui nilai-nilai transendennya. Sehingga sains tidak hanya diarahkan untuk melayani ambisi materialis belaka, tetapi juga untuk menjaga nilai-nilai etik ekologi maupun kemanusiaan. Dalam kerangka ini, sains diharapkan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk tujuan perbaikan kehidupan umat manusia, dan bukannya untuk mempercanggih alat-alat destruktif yang dapat merusak kehidupan manusia.
Menjadikan Cinta sebagai Etika Beragama
Mengatasi Trauma dengan Cinta
Judul : Sheila: Kenangan yang Hilang
Judul asli : The Tiger’s Child
Penulis : Torey Hayden
Penerbit : Qonita, Bandung
Edisi : Agustus 2003
Tebal : 528 halaman
Jauh di dalam diri setiap manusia terdapat kekuatan yang masih tertidur nyenyak. Kekuatan yang tidak pernah terbayangkan mereka miliki. Apabila kekuatan itu berhasil dibangkitkan dan diaktifkan, kehidupan dengan cepat bisa diubah. Pernyataan psikolog Orison Marden dari Amerika ini tampaknya amat disadari oleh Torey Hayden, seorang guru sekaligus psikolog bagi anak-anak yang mengalami gangguan mental dan emosional, untuk terus menggali potensi luar biasa dibalik ‘ketidaknormalan’ anak didiknya.
Berbekal pengalaman menarik yang pernah ia alami, Torey mencoba menuliskan sebagian riwayat kehidupannya, yang sebagian besar ia abdikan dengan gigih untuk “menormalkan” anak-anak didiknya. Lewat tulisan biografi tentang anak-anak yang mengalami gangguan mental dan emosional yang parah itu, Torey berusaha menyajikan fakta yang mungkin selama ini terabaikan oleh kita. Kita terlanjur bahkan cenderung sudah melabelkan cap klinis, anak-anak dengan kondisi demikian dianggap abnormal.
Melanjutkan kisah sebelumnya, Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil, Torey mencoba menghadirkan kembali tokoh Sheila dalam wujudnya yang lain, seorang gadis remaja usia belasan tahun. Sheila: Kenangan yang Hilang, yang buku aslinya berjudul The Tiger’s Child (1995), diawali dengan kilas balik perjalanan awal Torey Hayden ketika menangani sembilan anak yang masing-masing membawa masalah gangguan emosional dan mental yang berat, dari gangguan bahasa, aktualisasi, kognitif, hingga adaptasi dan sosialisasi dengan lingkungan.
Menjadi tokoh sentral dalam cerita Torey adalah Sheila, seorang gadis usia enam tahun dengan masa lalu yang menyakitkan. Gadis cilik itu pernah didorong ke luar mobil oleh ibu kandungnya dan ditinggal pergi untuk selamanya. Ia juga pernah mengalami kekerasan seksual oleh pamannya sendiri. Sementara kekerasan fisik ia terima dari ayah kandungnya yang pemabuk yang atas perbuatannya itu harus lebih banyak tinggal di penjara. Latar belakang keluarga yang berantakan dan penuh kekerasan ini telah melukai jiwa Sheila. Luka itulah yang mendorong perilaku destruktifnya. Pada usia enam tahun ia pernah menculik balita laki-laki dan membakarnya sampai hampir mati.
Meskipun hanya mengalami kebersamaan selama kurang lebih lima bulan, namun hubungan yang terjalin antara Torey dan Sheila, telah menimbulkan perubahan dramatis dalam perilaku Sheila. Kini setelah tujuh tahun perpisahan semenjak kelas Torey untuk selamanya ditutup, Sheila kecil telah berubah menjadi gadis empat belas tahun dengan penampilan yang jauh berbeda. Inilah perjumpaan pertama kali Torey dengan bekas muridnya, seorang remaja berpenampilan urakan, berambut keriting warna oranye menyala dan bergaya ala punk. Sungguh berbeda dengan Sheila kecil yang pernah dikenalnya.
Torey dihadapkan pada kenyataan bahwa Sheila sekarang sama bermasalahnya dengan Sheila kecil. Torey-pun berusaha untuk mengingatkan kembali masa-masa yang pernah dilalui Sheila kecil dimana ia pernah menjadi gurunya dan berhasil membawanya dari perilaku tak terkendali, meledak-ledak, mudah tidak percaya, mudah tersinggung dan sering membuat gangguan, ke bentuk perilaku lebih akomodatif dan bisa mengendalikan diri. Namun apa yang diharapkan terlalu jauh, Sheila dewasa benar-benar tidak ingat apa-apa, amnesia yang begitu aneh (hal 130).
Teka-teki itu mulai terjawab ketika Sheila dilibatkan dalam program sekolah khusus untuk anak-anak dengan gangguan mental dan emosional, persis bentuknya dengan sekolah yang ia dulu pernah menjadi muridnya. Di sekolah itu Sheila menjadi dekat secara emosional dengan salah seorang murid yang menurut orang tua angkatnya ditemukan di jalan.
Sheila, seperti diingatkan masa lalunya, begitu mendengar berita anak lelaki tujuh tahun itu akan “dibuang” ke penampungan anak terlantar oleh orang tua angkatnya disebabkan kelemahan fungsi mentalnya, ia memutuskan untuk menculik si anak laki-laki tersebut. Peristiwa penculikan ini membuka kembali memori Torey tentang Sheila kecil. Pengalaman ditinggal ibunya di jalan ternyata demikian membekas dalam diri Sheila. Sebagian besar kenangan masa kecilnya yang penuh trauma itu ternyata tidak benar-benar hilang, tapi hanya ditekan di bawah sadar.
Bagian terbesar dari buku ini lebih menunjukkan perjuangan Torey untuk membuka kembali masa lalu Sheila. Dan bangkitnya keberanian Sheila untuk “menonton” kisah hidupnya sendiri. Dan berkat pendekatan “terlibat” dari Torey yang berlandasakan pada sikap empatik dan kasih seorang ibu, Sheila mampu memaafkan masa lalunya. Kesediaan untuk memaafkan inilah yang pada akhirnya menjadi kunci keberhasilan Sheila membuang beban masa lalunya dan menatap masa depan secara lebih optimis.
Penekanan selanjutnya dari buku ini terutama diarahkan Torey pada hubungan yang ia jalin dengan Sheila. Hubungan yang tidak hanya sekedar hubungan antara mantan guru dan murid, tetapi lebih dari itu. Hubungan yang hanya bisa dipahami dengan kacamata seorang ibu terhadap anaknya sendiri. Torey berhasil meyakinkan kekuatan hubungan antara ‘ibu dan anak’ ini.
Torey jelas dengan sadar berusaha mengkritik pendekatan psikologis yang begitu ketat dan kaku mengontrol perkembangan anak dan remaja awal. Terutama melalui modifikasi perilaku dengan pendekatan pemberian hadiah dan hukuman (reward and punishment). Terlebih lagi jika ini dilakukan terhadap anak-anak yang mengalami gangguan mental emosional.
Bagi Torey Hayden, dengan pendekatan layaknya ‘seorang ibu’ terhadap anaknya, anak-anak dengan gangguan kejiwaan akan lebih mudah ditangani. Karena pada dasarnya mereka adalah manusia juga seperti kita. Mereka tidaklah bermasalah, yang bermasalah adalah masyarakat tempat tinggal mereka yang sengaja maupun tak sengaja mengasingkan keberadaan mereka.
Bagi praktisi, peminat dan pemerhati masalah anak, psikolog, psikiater, guru, akademisi, hingga relawan tempat singgah, panti asuhan dan lainnya, buku Sheila: Kenangan yang Hilang ini sangat berguna sebagai bacaan penunjang sekaligus pembanding, untuk menentukan langkah terbaik apa yang harus diambil dalam mengintervensi kehidupan anak-anak bermasalah. Tujuan akhirnya adalah memposisikan kembali anak-anak dengan gangguan mental emosional seperti layaknya kehidupan kita sendiri, karena mereka adalah bagian dari masyarakat dan bukannya diluar sistem masyarakat yang harus dipisahkan, terlebih lagi dianggap “gila”.
Langganan:
Postingan (Atom)